Bab 102 – Makan Malam Larut Malam
***
Sudut Pandang Asahd:
Mata gue kebuka kayak ada yang nyuruh. Perut gue yang kelaperan dan bunyi-bunyi udah ngebangunin gue. Gue diem aja, merem melek natap langit-langit, nyoba inget gue ada di mana.
Detik-detik kemudian, gue inget semuanya.
Gue gerak dikit dan sadar gue ada di lantai yang keras.
'Saïda mana?'
Pelan-pelan, gue duduk. Badan gue sakit banget gara-gara kejedot lantai keras, beberapa jam yang lalu.
"Aduh..." gumam gue, megang punggung bawah gue.
'Gila banget.'
Pikir gue, masih ngantuk-ngantuk gitu. Gue senyum dikit dan noleh buat nyari Saïda di pinggir kasur, deket gue. Kayaknya dia udah guling-guling atau geser sampe ke situ. Gue sadar pergelangan tangannya masih diiket.
'Aduh kasian banget. Dia tidur gitu?'
Gue berusaha buat berlutut dan langsung ngambil tali. Gue buka iketan di pergelangan tangannya dan narik talinya sampe lepas semua. Gue liat ada bekasnya.
'Semoga gue gak nyakitin dia. Soalnya beneran, pas gue mulai, ceritanya beda.'
Gue cium keningnya terus liat-liat sekeliling.
'Gue laper banget. Jam berapa sih?'
Gue liat di luar masih gelap. Gue berdiri dan hampir kesandung. Kaki gue lemes dan lutut gue masih agak gemeteran.
'Gue bakal ngulangin seks kita terus-terusan, gak pake komplain. Panas banget.
Emang selalu gitu.'
Gue senyum dan meregangkan badan. Gue ngambil celana boxer gue dan make. Terus, gue balik badan dan hati-hati nutupin istri gue. Tapi begitu gue lakuin, matanya pelan-pelan kebuka.
"Asahd?" panggilnya ngantuk.
"Iya, sayang." Gue nunduk dan cium pipinya.
Dia pelan-pelan duduk dan ngucek-ngucek matanya.
"Laper." gumamnya dan gue ketawa kecil.
"Gue juga. Ayo makan." Gue duduk di pinggir kasur, deket dia.
Dia ngangkat kepalanya dan natap gue. Dia keliatan capek banget, polos, dan imut.
"Kamu nyoba bunuh aku." gumamnya dan bibir gue miring ke samping karena geli.
"Maaf." kata gue, ketawa kecil.
"Gak usah minta maaf." dia senyum lemah, "Gue malah suka."
Jawabannya bikin gue nyengir dan dia cekikikan.
"Awalnya gue agak takut." akunya dengan tawa malas, "Tapi, wooo! Gila sih."
Gue ketawa dan dia ikut ketawa.
"Semoga gue gak nyakitin kamu." pikir gue.
"Enggak kok." dia merah, "Tapi kamu nguras tenaga gue. Sehat gak sih orgasme sebanyak itu?"
"Gue tau itu gak bahaya." Gue ketawa dan mendekat buat nyium dia. Dia bales ciuman gue. Pas dia ngelus pipi gue, gue sadar sesuatu yang bikin gue menjauh.
"Kenapa?" tanyanya, natap ekspresi khawatir di wajah gue.
"Kamu baik-baik aja, sayang?" tanya gue, khawatir. Gue pegang wajah dan keningnya. Dia agak kepanasan.
"Iya? Kenapa?" tanyanya, bingung.
Gue pegang dia lagi buat mastiin apa yang udah gue curigai dari awal.
"Kamu demam." gumam gue, masih megang dia.
"Beneran?"
"Iya." Gue agak cemberut.
"Yah, gue gak ngerasa demam." pikirnya. Gue gak ngerasa lucu.
"Kamu gak boleh sakit sekarang. Gak pas bulan madu kita." gerutu gue, megang dia lagi.
"Asahd, gue gak papa." dia cekikikan, "Gue gak ngerasa sakit atau gimana. Mungkin cuma panas di sini, atau suhu. Apapun itu. Tapi gue jamin gue gak sakit."
Gue natap dia, ngelus pipinya.
"Hmmm. Jaga-jaga dulu." kata gue dan berdiri, pergi ke tas gue buat ngambilin dia sesuatu.
Dia ketawa ngeliat gue yang khawatir banget.
"Gak papa. Gue jamin."
"Kamu bilang gitu. Kamu harus minum aspirin." Gue maksa, ngambil aspirin effervescent dari tas gue.
"Ihh, gak mau. Gue benci rasanya." dia ketawa, turun dari kasur dan make celana dalem sama kaosnya. Gue nyamperin dia.
"Gue maksa."
"Gak mau." dia cekikikan.
"Kalo kamu gak minum, gue gak bakal peduliin kamu selama bulan madu kita." Gue nyoba nge-blackmail.
"Kamu tau kamu gak bisa." dia ngangkat alisnya main-main.
'Fakta.'
"Sialan. Kamu bener." Gue muter mata "Tolong lakuin buat gue."
"Hmmm, abis kita makan." pikirnya.
"Iya, iya. Janji kamu bakal minum."
"Janji." dia muter mata, males.
"Bagus." Gue senyum dan nyium dia sekilas.
"Kamu lucu banget kalo khawatir sama aku." dia senyum dan meluk gue. Gue bales meluk dia dan itu cuma makin ngeyakinin gue, kalo dia demam.
Sudut Pandang Saïda:
"Kamu yakin kamu baik-baik aja, sayang?" dia ngulangin pas kita lepas pelukan. Lucu banget. Gue baik-baik aja! Gue beneran gak ngerasa demam atau sakit.
'Dia dapet dari mana sih? Gue baik-baik aja.'
Pikir gue dengan geli yang luar biasa.
"Gue baik-baik aja, Asahd!" Gue ketawa "Kalo kamu nanya lagi, gue gak bakal minum effervescent menjijikkan itu."
"Oke, oke." dia ngangkat tangan tanda menyerah dan gue cekikikan.
"Jam berapa sih?" tanya gue dan pergi buat ngecek HP gue. "Jam dua pagi."
"Kita gak tidur lama. Laper gue lebih kuat dari ngantuk." pikirnya dengan ketawa kecil dan ngambil tangan gue.
"Ayo makan deh."
"Mmhmm."
Gue kaget dan cekikikan kaget pas dia ngangkat gue dari kaki dan di gendong. Gue langsung meluk lehernya, ketawa.
"Gak keberatan kalo aku gendong kamu ke bawah, Nyonya Usaïd?" tanyanya dengan senyum paling imut yang pernah ada.
"Gak keberatan kok, Tuan Usaïd tersayang." Gue senyum balik.
'Berbahaya banget jatuh cinta sama seseorang kayak gini. Tapi gue gak komplain.'
--
Sudut Pandang Asahd:
Kita duduk di dapur dan santai makan dan ngisi perut kita. Gue perlu balikin tenaga dan Saïda harus ganti tenaga yang ilang, abis kita ngeseks. Kayaknya dia malah belum makan sama sekali.
Gue suka banget ngeliat dia makan sebanyak itu. Lucu dan imut banget.
"Kamu beneran laper." Gue ketawa kecil.
"Salahin kamu." dia ketawa, "Apa yang kamu lakuin ke aku di atas, nguras tenaga aku, Asahd."
"Kalo gitu makan sebanyak yang kamu mau. Bakal ada lebih banyak seks dan cinta-cintaan, di hari-hari mendatang." Gue ngedipin mata ke dia dan dia salting, senyum malu-malu.
"Kamu tau kamu ngejerit kata 'F' keras dan kasar banget, tadi. Bener kan?" Gue mutusin buat ngingetin dan ngecengin dia.
Mulutnya kebuka dikit karena geli, dan gue ketawa.
"Ssst! Gue gak tau kamu ngomongin apa." dia muter mata main-main dan gue ketawa lagi.
"Gak usah khawatir. Kalo gue udah selesai sama kamu selama bulan madu ini, kamu bakal teriak lebih parah dari itu."
"Asahd, diem!" dia ngangkat jari ke bibirnya, bikin gue ketawa sekali lagi. "Anak nakal."
"Fakta." Gue naikin alis ke dia dan dia ketawa.
-
Kita ngobrol lama banget dan akhirnya selesai makan.
"Enak banget. Ayo pergi." katanya cepet dan nyoba lari keluar dapur.
"Oh, gak bisa gitu." Gue ketawa dan langsung nangkep dia. "Kamu harus minum aspirin itu."
"Oh, gak mau." dia ngomel kayak anak kecil pas gue narik dia dan balik ke meja. Gue gendong dia dan nyuruh dia duduk.
"Kamu udah janji. Kamu gak mau gue marah sama kamu, kan?" tanya gue, nunjuk dia pake jari.
"Enggak." gumamnya.
"Bagus." Gue senyum dan ngambil gelas. Gue pergi buat ngisi air dan masukin aspirinnya.
Gue balik ke dia pas udah siap.
"Sekarang minum. Gue liatin."
Dia pura-pura nangis dan ngambil gelasnya. Dia natap gue.
"Jangan pasang mata memelas gitu." Gue ketawa, "Kamu hot, Saïda."
"Itu bagus, kan?" dia naikin alisnya dan gue ketawa.
"Enggak, kamu beneran panas. Kamu demam."
"Tapi gue gak ngerasa!" dia ngomel keras kepala.
"Saïda." Gue manggil tegas sekarang, alis gue naik. "Minum."
"Oke, Tuan." dia muter mata. Gue liatin dia nyubit hidungnya dan maksa minumnya sampe tetes terakhir. "Eeuurk! Eew!"
"Tuh." Gue senyum dan ngambil gelasnya dari dia, "Demam kamu bakal ilang."
"Eeeeww!" dia ngambil apel di keranjang buah dan langsung gigit. Dia ngunyah cepet biar rasa aspirinnya ilang. Terus ngebuang apelnya.
"Gak seburuk itu kok." Gue ketawa dan dia cemberut main-main.
"Cuma psikopat yang bilang gitu. Kamu maksa aku." dia ngomel dan loncat dari meja.
"Maaf ya." pikir gue dan nyoba gendong dia.
"Jangan sentuh aku." dia ngelak main-main dan mulai jalan ke pintu. Gue ngikutin dari belakang.
"Oke, Nyonya." Gue ketawa kecil, nampar pantatnya.
"Ya Tuhan!" dia kaget dan geli, noleh ke gue dengan mulut kebuka dan tangannya di pantatnya.