Bab 54 – Gosip Teman
***
Sudut Pandang Saïda:
Gue menggeliat dari tidur gue pagi-pagi banget pas ngerasa ada yang ngelus muka gue pelan.
Gue buka mata dengan lemes, dan ngeliat Asahd udah rapih dan mandi.
"Gue berangkat kerja nih. Pengen ketemu lo dulu." Gue denger dia ngomong pelan. Gue ngantuk banget, susah banget buka mata.
"Mm, oke."
Dia senyum tipis dan nyium kening gue sebelum pergi. Gue nutup mata yang berat dan tidur lagi.
--
Siangnya, gue bangun beneran. Gue menggeliat di kasur dan pikiran tentang malam sebelumnya langsung memenuhi otak gue. Gimana bisa gue lupa? Gue beneran mimpiin itu!
'Oh Asahd...'
Merinding seluruh badan gue dan gue gigit bibir mikirin dia... gimana panasnya dia bikin gue ngerasa. Gimana gilanya dia bikin gue. Dia udah ngasih gue orgasme pertama tanpa harus buka baju gue.
'Oh, ya Tuhan.'
Pipi gue berasa kebakar.
'Dan dia baik banget dateng nemuin gue pagi ini sebelum berangkat kerja. Apa gue makin lama makin jatuh cinta sama dia?'
Gue meluk diri sendiri dan nutup mata, nyoba buat benerin pikiran gue yang campur aduk. Oh Asahd udah bikin gue dalam keadaan yang parah, bingung. Banyak banget yang berubah di antara kita dalam waktu yang singkat.
Malam sebelumnya nggak bakal bisa dilupain. Gimana badan gue bereaksi. Gimana pengennya gue lebih, suara desahan rendahnya pas dia gesek-gesekin diri ke gue, bibirnya nempel dan bergumam di bibir gue.
'Gue nggak bakal bisa lupain ini.'
Gue nelen ludah lebih keras dan ngusap lengan gue yang merinding. Dia udah bikin gue ngerasa enak banget. Kita udah ngelewatin banyak batasan sekarang dan nggak ada yang bisa gue lakuin tentang itu. Gue bahkan nggak mau ngapa-ngapain tentang itu...
'Gue nggak percaya gue udah ngelakuin semua ini dan nggak ngerasa nyesel.'
Gue nyoba buat duduk dan terus nyadar kalau paha gue lengket, ngingetin gue betapa basahnya gue buat dia semalem.
'Gimana caranya gue ngejalanin hari ini tanpa mikirin dia dan semalem? Gue mulai ngayal tentang dia setelah kita ciuman beberapa kali. Tapi setelah apa yang terjadi kemarin, semuanya bakal makin parah.'
Gue pelan-pelan turun dari kasur dan ngelepas sprei gue. Gue harus nyuci mereka, juga celana pendek gue. Hari itu baru mulai, tapi gue udah pengen selesai.
'Kenapa? Karena gue pengen ketemu Asahd?'
*
Sudut Pandang Asahd:
"Bro, lo nggak papa?" Derrick nyeletuk dan gue langsung sadar dari lamunan gue. Gue udah tukeran tempat sama Jason buat sehari dan jadi gue balik lagi, ngelayanin di ruang utama.
"Hah? Apaan?" Gue nanya bingung.
Gue lagi duduk di konter dan nunggu panggilan pelanggan atau pelanggan lain masuk ke restoran.
"Lo lagi ngelamun?" Alex yang bareng kita berdua, nambahin sambil ketawa kecil.
"Gue nggak tau apa yang lo omongin." Gue ketawa kecil. Tentu aja gue lagi ngelamun mikirin Saïda. Gue cuma nggak sabar hari ini selesai biar gue bisa ketemu dia lagi.
"Bro, lo salting?!" Derrick berseru, natap muka gue dengan geli. Gue membeku dan ngeliat ke kaca di deket situ. Pipi gue emang mulai merah.
'Ya ampun, malunya.'
Mereka ngetawain gue dan gue geleng-geleng kepala geli.
"Mikirin Ally?" Alex bergumam dengan suara pelan.
"Emm, nggak."
"Bro, kalau lo nggak mikirin cewek, terus apa yang bikin lo begitu sibuk?" Derrick nanya.
"Tunggu." Alex mulai, "Mungkin dia nggak mikirin Allison, tapi dia tetep mikirin cewek. Cewek yang beda."
Mereka natap gue dengan mata penasaran dan bibir gue berkerut geli. Kayaknya itu konfirmasi yang mereka butuhin karena mereka berdua kaget dengan mata lebar dan ngambil kursi deket gue.
"Lo lagi deket sama cewek lain, bro?" Derrick beneran berbisik dan gue ketawa.
"Jangan ketawa, Asahd. Lo harus cerita." Alex nyeletuk.
"Yah," gue ketawa kecil, "Gue nggak lagi deket sama siapa-siapa, secara resmi. Tapi jujur, gue emang berharap bisa resmiin dalam waktu dekat. Dia bikin gue gila. Gue nggak bisa jelasin."
"Woooah..." mereka bersenandung.
"Ally tau?" Alex nanya.
"Tentu aja nggak, bego." Gue ketawa.
"Gue kira lo dalem sama Ally."
"Gue juga mikir gitu. Tapi jujurnya, gue rasa gue cuma ngeliat dia sebagai temen baik dan gue nggak mau putus sama dia dan nyakitin perasaannya...
Tapi faktanya, gue udah kenal cewek yang lain ini udah lama dan gue ngembangin perasaan yang dalem buat dia. Beneran ngabisin pikiran gue."
"Anjir. Ini serius." Derrick nyeletuk "Kita kenal dia?"
"Nggak." Gue bohong.
"Wow. Dia suka sama lo juga?"
"Dia pasti suka." pikiran itu bikin gue senyum.
"Terus jelasin semuanya ke Allison dan jadian sama cewek yang lain."
"Masalahnya, yang lain udah tunangan. Dan dia masih cinta sama tunangannya."
"Woah. Ini lebih rumit dari yang gue kira. Udah berapa lama mereka barengan?"
"Hampir sepanjang hidupnya." Gue bergumam, meskipun ada sedikit rasa sakit di dada gue.
"Hmmm, Asahd. Mungkin lo harus lupain cewek itu. Kalau dia lagi pacaran sama cowok lain yang random, bakal lebih gampang. Dia udah tunangan dan lagi jatuh cinta." Alex nyeletuk.
"Bener. Gimana kalau dia cuma manfaatin lo buat seneng-seneng, lo tau. Mainin perasaan lo dan tetep nikah sama cowoknya?" Derrick nanya.
"Dia bisa manfaatin gue selama dia mau." Gue bergumam, natap konter di depan gue, "Dan kalau dia tetep nikah, dan gue sialnya masih gila sama dia, gue nggak bakal biarin dia pergi. Gue bisa jadi selingkuhannya atau semacamnya." Gue bercanda dan ketawa kecil.
"Asahd, lo nggak mungkin." mereka ketawa.
"Lo mau jadi cowok simpanannya?"
"Yup. Selama dia lebih pengen gue, gue oke." Gue jawab santai.
"Dan gimana kalau dia nggak mau ada urusan sama lo setelah dia nikah?"
"Yah, kalau gue nggak bisa milikin dia buat diri gue sendiri karena dia tetep kekeuh sama cowoknya, gue bakal pastiin dia masih kecanduan sama gue pas dia nikah sama orang tolol itu. Jadi bahkan setelah pernikahannya, dia bakal tetep pengen ketemu gue."
"Asahd!" mereka berseru kaget, ketawa. "Lo serius??"
Gue ketawa.
"Lo nggak kenal gue." Gue ketawa. Gue serius sama setiap kata.
"Jadi, lo bakal jadi perusak rumah tangga?" Alex bercanda.
"Gue nggak peduli. Kalau gue mau sesuatu, gue lakuin apa aja buat dapetin itu." Gue jawab dengan gaya yang apa adanya.
"Hmmm. Bro, lo savage!" mereka ketawa.
"Lo yakin, lo nggak jatuh cinta sama cewek ini?" Derrick nanya dan gue ngeliat dia.
"Gue nggak tau." Gue ketawa gugup, "Gue masih nyoba buat cari tau. Gue masih ngetes batas gue, tentang dia. Gue pengen liat sejauh mana gue bisa buat milikin dia."
"Bro, lo udah berencana buat ngerusak pernikahannya begitu selesai."
"Iya, tapi gue belum ngelakuin itu karena belum terjadi. Gue pengen ngetes batas gue sekarang. Liat sejauh mana gue bisa. Terus gue bakal mutusin gue jatuh cinta atau nggak." Gue mengakhiri dengan senyum geli.
"Dan kalau lo iya?"
"Itu bakal bikin semuanya makin parah." Gue bergumam.
"Buat siapa?"
"Tunangannya. Duhhh." Gue meledak ketawa. "Gue udah bisa liat 'MANTAN' di depan gelar dia sekarang. 'Mantan tunangan' kedengerannya lumayan." Gue ketawa lebih keras.
"Asahd, lo G. Dia nggak peduli sama sekali!" Derrick ketawa dan Alex ikut ketawa.
"Bro, cowoknya kaya?"
"Banget. Keluarganya emang kaya dan berpengaruh."
"Apa?? Lo berani banget!"
"Serius! Gue yang cuma pelayan nggak bakal berani nyuri cewek atau anak cewek orang kaya dan berpengaruh. Lo nggak takut??"
'Gue seorang Pangeran ma-ahfacking.'
"Nggak." Gue ketawa, "Panggil gue Asahd tapi gue juga dikenal sebagai Tuan pencuri ketenangan lo juga Tuan pencuri cewek lo. Klaim sendiri."
"Bro, lo nggak ngerasa bersalah sama cowoknya?" Alex ketawa.
"Kenapa harus? Kita bukan temen."
Gue nggak bohong, kan? Noure bukan temen gue.
Mereka beneran mati karena ketawa dan kaget, bikin gue geli.
"Asahd, lo lucu banget." Tanya batuk dan gue ketawa.
"Bro, lo udah meyakinkan gue. Gue selesai." Derrick ketawa, "Gue ngerasa kasihan sama tunangan itu sekarang. Lo udah cium ceweknya?"
"Setiap kali gue ketemu dan berduaan sama dia. Dan gue bisa jamin, dia suka."
"Okaaaaayy." mereka ketawa.
"Dan gimana dengan Ally dalam semua ini?"
"Gue bakal milih waktu yang tepat dan bilang ke dia."
"Oke. Gue beneran berharap bisa liat cewek yang lo omongin itu, suatu hari nanti."
'Oh, lo udah liat dia lebih dari sekali. Tapi waktu itu, gue nggak tau dia bakal bikin gue segila ini.'