Bab 46 – Permohonan Menggairahkan
***
Sudut Pandang Saïda:
Malam Jumat, gue sama Asahd duduk di ruang tamu sambil nonton TV pas makan malam. Itu film komedi dan kita lagi seru banget. Gue suka banget sama dia. Kita bikin komentar lucu tentang beberapa bagian film dan ketawa ngakak kayak nggak ada tetangga.
Setelah film pertama, kita mutusin buat nonton lagi. Ini kan akhir pekan, jadi nggak perlu mikirin bangun pagi buat kerja besoknya.
"Saïda, mulai nih!" Asahd manggil dari ruang tamu, maksudnya film baru yang lagi kita tonton.
"Iyaaa!" Gue minum air putih sampai habis dan langsung lari ke ruang tamu.
Gue naik ke sofa dan tiduran, naruh kepala di paha dia. Dia muter filmnya karena dia udah nge-pause buat gue, terus kita mulai nonton.
-
Lagi asik nonton, dia gerakin pahanya dikit. Gue ngeliatin dia.
"Kenapa?" gue mikir, "Kepala gue berat ya?" Gue ketawa kecil.
"Enggak kok, pas banget. Cuma mau pipis." dia cekikikan.
"Hahaha, oke." Gue duduk dan dia berdiri, langsung lari ke kamar mandi.
"Pause dulu ya!"
"Oke deh. Tapi cepetan!" gue mikir dan nge-pause filmnya.
Gue lagi nungguin dia dengan sabar, tiba-tiba hapenya bunyi ada teks masuk. Penasaran, gue celingak-celinguk terus ngambil hapenya.
'Nggak seharusnya gue megang hapenya.'
Ada passwordnya sih, tapi gue masih bisa baca pesan yang muncul di layar. Ternyata dari Allison. Isinya:
-Nggak sabar buat besok...kita bakal selesain yang udah kita mulai. Beli kondom ya, gue nggak punya. 👅💦😂😘. Kangen dan selamat malam sayang ❤.-
'What the hell? Mereka mau tidur bareng? Pertama kalinya...akhir pekan ini??'
Gue denger dia nyiram dan naruh hapenya. Dia keluar dan gabung sama gue.
"Gue balik, Angel."
"Kayaknya hapemu bunyi deh." gue bilang.
"Masa sih?"
Gue ngeliatin dia ngambil hapenya. Dia udah baca karena dia senyum dikit ke layar dan ngetik sesuatu. Mungkin balesan. Terus dia masukin lagi hapenya.
"Siapa tuh?" gue nanya.
"Ally. Cuma ngucapin selamat malam."
"Aaaw, so sweet." Gue pura-pura dan ngambil remot.
'Gue nggak nyangka Allison semurahan itu. Kayaknya gue mulai nggak suka deh sama dia...'
Gue mikir dan muter filmnya.
"Sekarang giliran gue." kata Asahd dan tiduran, nyenderin kepalanya di paha gue, "Lebih empuk dari bantal..."
"Hahaha! Lo emang selalu ngomong yang aneh-aneh." gue ketawa.
"Serius. Mending gue nyenderin kepala di paha lo yang cantik daripada bantal di kamar gue." dia bilang, sambil senyum ke gue.
"So sweet banget." gue cekikikan gugup.
"Iya kan." dia cekikikan dan balik lagi ngeliatin layar TV. Gue juga sama, tapi sambil ngangkat tangan dan mulai ngusap-ngusap dan garuk-garuk kepalanya, mainin rambutnya.
"Mmmm, enak banget..." dia desah pelan dan gue cekikikan, padahal bulu kuduk gue udah merinding. Gue berhenti buat ngegodain dia.
"Kenapa berhenti?" dia ketawa.
"Karena kalau lo mau gue lanjutin, lo harus ngemis dulu biar gue puas." gue bercanda.
Yang bikin gue kaget, dia duduk dan ngambil remot. Dia nge-pause filmnya dan ngeliatin gue.
"Gue siap ngemis." dia mikir.
"Beneran? Oh, gue bakal suka nih."
Dia turun dari kursi dan berlutut di depan gue.
"Please?"
"Mm-mm." gue ketawa, geleng-geleng kepala. Terus dia ngelakuin hal yang nggak kepikiran. Dia nundukin kepala dan nyium kaki gue.
"Ya ampun, Asahd!" gue cekikikan kayak anak kecil dan dia ketawa, "Lo emang raja!"
"Nggak di New York." dia jawab sambil cekikikan.
"Oh, iyaaa. Sekarang ngemis." gue ketawa.
"Please?" dia nyium mata kaki kanan gue.
"Nggak."
Berlanjut sampai dia nyium lutut kanan gue. Bulu kuduk gue udah mulai merinding dan kayaknya makin parah setiap dia nyium. Tapi gue suka banget rasanya dan permainan kecil ini.
"Please?" dia ngeliatin gue.
"Nggak..." gue senyum dan gigit bibir bawah gue karena gemes.
Gue pake celana pendek. Ya, gue udah nyaman pake itu di depan dia karena dia udah beberapa kali ngeliat gue pake itu. Apa kita udah terlalu nyaman? Mungkin. Tapi gue masih nggak ngeliat ada bahaya yang bisa ditimbulkan.
Sudut Pandang Asahd:
Gue cium bagian atas pahanya dan ngeliatin dia.
"Please?"
"Nggak."
Ada bagian dari diri gue yang pengen dia bilang nggak, terus bilang nggak. Tapi kenapa? Gue cuma suka apa yang lagi terjadi.
Gue nggak naik lebih tinggi, tapi mutusin buat nyium di antara lututnya.
'Berhenti... Berhenti...'
"Please?"
"Nggak..." dia cekikikan dikit dan gue senyum ke dia.
Gue cium garis di antara pahanya yang ketutup.
"Please?" gue bergumam di kulitnya.
"Nggak..."
Gue nelen ludah dan ngasih dia pandangan terakhir. Dia lagi ngeliatin gue, gigit bibir bawahnya dan ekspresinya jelas banget gemes.
"Belum puas ya?" pertanyaan itu keluar dari mulut gue dengan nada yang agak serak. Ada perasaan panas di selangkangan gue.
"Mm-mm." dia cekikikan dan suaranya kayak musik yang indah.
"Oke, princess." Gue ngerasa kayak kehabisan napas, tapi itu perasaan yang enak.
Bulu kuduk merinding di kulit gue dan tanpa mikir, gue pegang pinggangnya terus gue benamin wajah gue di garis di antara pahanya yang ketutup.
"Please..." gue bergumam, tapi kayaknya gue lagi ngemis buat hal lain.
'Apa yang gue lakuin?...'
Gue tekan wajah gue lebih keras ke pahanya yang lembut sampai dia ngebuka dikit. Wajah gue masuk di antara. Gue cium paha dalemnya dan ngangkat kepala buat ngeliatin dia.
"Please, Saïda?..."
Wajahnya merah dan dia masih gigit bibir bawahnya. Ekspresinya udah nggak gemes lagi dan sama kayak gue, napasnya berubah.
Dia merah dan pelan-pelan geleng kepala nggak dan tanpa mikir, gue benamin wajah gue di antara pahanya yang lembut lagi. Tapi kali ini, gue dorong maju sampai wajah gue nempel di gunungnya. Suara rendah keluar dari bibirnya dan dia nutup pahanya, ngejebak kepala gue. Darah udah ngalir ke alat kelamin gue.
Gue hirup dalam-dalam aroma manisnya, neken hidung gue ke dia dan ngusap dia lewat kain celana pendeknya.
Dia bikin gerakan mendorong, ngangkat pinggulnya dikit seolah-olah mau menggesek wajah gue.
"Asahd..." dia tersentak serak dan ngebuka pahanya biar gue bisa ngangkat kepala dan ngeliatin dia, yang gue lakuin. "K– kamu udah ngemis cukup..."
Gue tau itu udah selesai. Tanpa ngomong, gue bangun dan tiduran di sofa, naruh kepala di pahanya. Dia mulai ngusap rambut gue sesuai rencana dan gue muter filmnya.
Gue nggak bisa jelasin apa yang baru aja terjadi. Apa yang udah merasuki gue? Merasuki kita, lagi. Tubuh gue kayak udah nggak bisa dikontrol.
Tapi satu hal yang pasti...kita bakal bersikap kayak nggak ada apa-apa yang terjadi.
~~
Semuanya normal buat sisa malam itu. Kita nonton film, ketawa ngakak, komentar, bikin lelucon dan nggak mikirin apa-apa lagi. Terus kita balik ke kamar masing-masing, kayak malam normal lainnya.