Bab 11 – Pencarian Kerja
Sudut Pandang Asahd:
Gue bangun kepagian banget pagi berikutnya karena tidur nggak nyaman. Kasurnya nggak ada ruangnya dan kasurnya keras. Mimpi buruknya belum selesai. Tapi, apa yang terjadi sama gue, bukan mimpi. Ini semua nyata.
Gue keluar dari ranjang dan kamar. Gue pergi ke dapur kecil tempat gue nemuin pemanas air listrik. Senangnya! Gue langsung rebus air dan masukin ke ember yang gue temuin di kamar mandi. Mandi pake shower? Nggak deh. Gue nggak bakal pake shower itu sampai pasokan air panasnya diperbaiki. Kalaupun diperbaiki.
Gue campur air panas sama air dingin dan akhirnya mandi.
'Gue udah nyampe titik terendah. Gue, Pangeran Asahd, mandi pake ember bukannya santai di jacuzzi atau bak mandi gede. Gue bener-bener sengsara sekarang.'
Setelah mandi, ada benjolan di tenggorokan gue, gue keringin badan dan pake baju tidur. Gue ambil handuk dan barang-barang gue sebelum keluar dari kamar mandi. Pas dibuka, Saïda ada di sisi lain. Kayaknya dia mau buka dan masuk buat mandi juga.
"Selamat pagi, Asahd." katanya dengan senyum cerah. Senyum yang memuaskan. Si hama ini lagi menikmati hidupnya, manggil gue pake nama gue dan ngomong apa aja yang dia mau ke gue. Nggak ada kewajiban kerajaan sekarang. Benjolan di tenggorokan gue makin gede.
"Gimana tidurnya? Nyaman kan? Kasur gue lumayan empuk. Untungnya." tambahnya, jelas-jelas mau mancing gue.
'Tampar aja dia keras-keras.'
Gue mikir. Tapi terus gue inget dia masih anaknya Djafar. Ugh!
"Lo mau mancing gue?" gue tanya, pelan-pelan.
Dia senyum makin lebar.
"Gue?? Nggak." katanya sepolos mungkin "Gue cuma seneng sama hidup baru ini. Gue seneng kita ngejalaninnya. Lo ngejalaninnya. Lo nggak punya pilihan selain ngejalaninnya. Keren kan?" katanya bangga, sambil melipat tangan.
'Tarik napas...'
Gue natap dia.
"Ada sesuatu yang menjijikkan di rambut lo." gue bilang pelan dan senyumnya memudar sedikit.
"Apa? Di mana??"
"Sini."
Sebelum dia bisa nebak maksud gue, gue ambil segenggam rambut di belakang kepalanya dan narik. Gue narik cukup keras buat bikin kepalanya jatuh ke belakang dan bikin dia teriak.
"Aah! Asahd! Asahd lo nyakitin gue!" dia mencicit, nggak berdaya mukul dada gue dan berusaha lepas.
"Oh, ya?" gue tanya, ngeliatin dia yang pendek, "Terus sekarang?"
Gue narik lebih keras lagi dan dia mencicit.
"Aah! Asahd!" dia teriak, suaranya pecah kayak mau nangis. Gue cekikikan, menikmati momen itu.
"Bodoh. Nggak banyak bacot, ya?" gue bergumam. "Gue nggak suka sama pantat tengil lo. Semakin lo nyoba gue, semakin gue nggak peduli lo anaknya Djafar."
"Aduh! Gue serius! Sakit!" dia mengeluh.
Akhirnya gue lepasin dia dan dia mundur dengan cemberut dan pipi merah. Gue senyum, puas karena udah nyakitin dia.
"Kita liat apa lo bisa bertahan seminggu." dia mencibir, "Mulai mikir cara buat nyari kerjaan kecil-kecilan, kalau nggak lo cuma makan kacang kalengan."
Saïda kelakuannya kayak adek kecil yang nyebelin dan tukang perintah yang pengen lo kunci dan tampar kalau lagi bosen. Bahkan pas di Zagreh, kita berantem kayak kucing dan anjing, tapi dia bakal mikirin apa yang dia omongin karena gue Pangeran. Sekarang kita di New York, gue bakal dapet lebih banyak omong kosong dan gue nggak bakal terima.
"Mendekat dan bilang langsung di depan muka gue." gue nyatakan, melangkah mendekat. Dia langsung mundur.
"Nggak akan pernah." dia menjawab, melipat tangan.
"Lo itu penyihir."
"Jangan panggil gue gitu, Asahd." katanya dengan sedikit cemberut. Karena lumayan religius, Saïda benci dipanggil nama-nama tertentu.
"Lo itu pertanda buruk. Pertanda yang bener-bener buruk." Gue jalan ke kamar gue dan masuk.
**
Nanti pagi itu, gue pake beberapa pakaian biasa. Gue ngerasa buruk. Gue keliatan buruk! Gue nggak biasa kayak gini! Gue pake sepatu kets! Sepaatuu kets! Kaos dan Jersey! Gue sadar nggak semua celana di tas, itu jeans. Tapi tetep aja, bahannya murahan!
--
Setelah itu, gue gabung sama Djafar dan Saïda di meja kecil buat sarapan. Sarapan yang menyedihkan. Roti panggang, mentega, selai, dan susu. Dan itu aja.
"Gue rasa lo keliatan oke pake baju itu, Asahd." Djafar bilang, setelah dia bilang selamat pagi tapi nggak dapet balasan.
"Nggak usah bahas baju. Gue udah kesel." gue jawab, natap roti panggang.
"Ayah, dia harus nyari kerja, kan?" Saïda bilang dan gue natap dia.
"Bener. Gue udah bilang kemarin. Jadi, lo tau lo cuma punya waktu sampai akhir minggu ini buat nyari. Kalau nggak, makanan lo dikurangin. Karena lo harus ikut bayar tagihan, Asahd. Lo nggak punya pilihan. Dan kalau lo masih nolak buat serius, inget kata-kata gue, lo nggak dapet apa-apa buat dimakan. Sama sekali." dia mengakhiri.
Gue tersentak. Gue kenal Djafar dan saat itu, dia bener-bener serius. Nggak ada candaan di sana.
"Lo mau bikin gue kelaparan??" Gue nggak percaya sama telinga gue. Orang tua gue udah ngerjain gue!
"Kalau lo nggak nyari kerja, iya."
"Gimana gue mau nyari?! Gue nggak punya CV, sertifikat, atau apapun di sini!"
"Bukan kerjaan serius atau tetap yang gue mau lo cari. Sesuatu yang kecil tapi efisien. Kayak pengasuh anak, tukang bersih-bersih..."
"Tukang ber– apa??" mata gue membelalak. "Nggak. Dengerin baik-baik dan dengerin kata-kata yang keluar dari mulut gue. Nggak."
"Itu atau nggak sama sekali. Gue udah peringatin lo. Kalau lo nggak mau kelaparan, keluar dan cari sesuatu buat dikerjain." dia mengakhiri, setegas biasanya. Mata gue tetep membelalak kaget.
Mimpi buruknya terus berlanjut.
"Gue bakal kasih lo sedikit uang. Buat transportasi lo. Lo pergi ke kota hari ini, cari kerjaan yang tersedia dan terus lo balik kalau lo rasa udah cukup nyari. Pastiin lo bener-bener nyari. Lo udah tau konsekuensinya, kalau nggak."
Gue nggak bisa berkata-kata.
**
Setelah sarapan, nggak punya pilihan sama sekali dan percaya sama ancaman Djafar, gue keluar dari apartemen.
Gue jalan menyusuri koridor dan menuju lift, cemberut terus di wajah gue. Gue gugup, marah, cemas! Apa yang bakal gue lakuin? Kota itu tempat yang menakutkan buat gue. Apalagi karena gue nggak punya uang dan bukan siapa-siapa. Apapun bisa terjadi sama gue. Baik dan terutama, buruk.
Sudut Pandang Penulis:
Asahd keluar dari gedung dan mulai jalan di jalanan, natap lurus ke depan dan menghindari kontak mata sama tetangga dan siapapun yang dia lewatin. Untuk pertama kalinya, dia malu dan bener-bener gugup. Dia nggak tau gimana caranya mendekati orang. Dia udah kehilangan semua kepercayaan diri.
Dia jalan ke kota yang sibuk. Jalanan penuh, lalu lintas di sana-sini, kebisingan dan banyak pergerakan. Dia bisa aja tersesat di kerumunan yang sibuk itu. Dia beneran mulai panik di dalam tapi tetep tenang di luar.
'Lo bisa, Asahd...' dia mikir dalam hati.
Sudut Pandang Asahd:
Jantung gue berdebar kencang dan gue susah buat napas dengan benar. Gue berdiri di tengah trotoar sementara kerumunan orang jalan ke sana kemari, tanpa henti. Lebih dari sepuluh orang nabrak gue pas mereka jalan dan yang lain bahkan berhenti dan berbalik buat ngehina gue karena ngehalangin jalan mereka, sementara yang lain minta maaf karena nabrak gue.
Gue nggak biasa kayak gini. Gue ngerasa kayak anak kecil yang tersesat di kota gede itu. Perasaannya buruk banget. Mata gue berair karena gue nggak tau harus ngapain, persisnya harus kemana atau bahkan harus mulai dari mana.
'Tolong gue...'
"Minggir, deh!" pria pemarah bilang, nabrak bahu gue pas dia jalan melewati gue dan menyadarkan gue dari pikiran gue.
"Maaf..." gue bergumam tapi dia udah menghilang di kerumunan.
Mengendalikan diri, gue liat sekeliling dan nyadar ada toko buku di sebelah kanan gue. Gue jalan ke pintu dan masuk.
Ada orang di dalam, beberapa nyari-nyari di rak buku dan yang lain baca beberapa buku. Gue nyari pemiliknya dan nemuin dia di belakang konter. Gue samperin dia.
"S– selamat pagi, Tuan." gue mulai.
"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu? Buku yang Anda butuhkan?" dia nanya.
"Um, nggak. Gue lagi nyari kerjaan kecil-kecilan. Apa Anda butuh asisten atau seseorang yang bakal bantu Anda bersihin buku dan rak?" gue nanya, perut gue mual.
"Nggak. Udah punya semua yang saya butuhkan."
"Oh, oke. Terima kasih." gue jawab dan pergi.
~
Gue coba beberapa toko lagi dan gue dapet jawaban yang sama. Beberapa pemilik toko lumayan kasar atau terang-terangan rasis, yaitu, mereka nunjukkin kalau mereka nggak mau gue karena warna kulit dan aksen gue. Nggak bakal gampang sama sekali.
"Hari ini bakal panjang." gue bergumam setelah keluar dari satu toko lagi, "Gue bakal mandi keringat sampai gue nemuin sesuatu."