Bab 23 – Bermain
Sudut Pandang Saïda:
Gue buka kunci pintu apartemen, masih seneng banget sama diri sendiri. Gue masuk dan nemuin Asahd lagi duduk di sofa sambil nonton TV.
"Haloow. Akhirnya bangun juga, ya?" kata gue, nutup pintu di belakang gue.
"Seperti yang lo lihat."
"Lo lihat catatan yang gue tinggal?" tanya gue, ngejatuhin tas dan langsung nyamperin buat duduk juga.
"Iya, gue lihat. Makasih buat sarapannya," jawab dia males-malesan, keliatan bosen banget.
"Lo udah cuci piring, kan?" Gue naikin alis.
"Iya, Mama. Ancaman lo nggak ngasih gue pilihan," gumam dia.
"Iyuuuh, jangan panggil gue gitu. Lo terlalu jelek buat jadi anak gue," gue goda dan seperti yang diduga, Ratu Drama itu langsung noleh ke gue, matanya gede.
"Gue?? Jelek?? Perlu gue pinjemin duit biar lo beli kacamata? Cih! Gue itu permata. Spesimen langka," dia nyolot sambil muter bola matanya, bikin gue ketawa kecil.
"Terus aja bohongin diri sendiri," gumam gue dan berdiri buat ganti baju.
"Lo lagi *good mood* banget nih. Dari mana?"
"Oh, gue lupa bilang!" seru gue seneng. "Gue nyari kerjaan soalnya bosen banget di rumah terus nggak ngapa-ngapain."
"Coba gue jadi lo. Tapi, ini lo malah gitu. Sengaja dan dengan tujuan nyari kerjaan, karena lo bosen? Lo alien. Siapa sih yang kayak gitu?"
"Semua orang yang sadar, dewasa, pekerja keras, dan normal," jawab gue dengan gaya bangga dan jail.
"Oh, lucu banget. Lo nggak ada satupun dari yang tadi. Lo cuma aneh. Ha!" dia ngejek dan gue nggak bisa nahan diri buat nggak ngambil bantal dan ngelemparnya ke dia.
"Lo nyebelin banget."
"Aaaaw, makasih. Jadi, lo dapet kerjaan?"
"Iya. Di toko orang Maroko, tempat gue beli bahan-bahan dan makanan buat masak. Pasangan suami istri sama anak-anaknya seneng banget nerima gue. Gue mulai besok. Nggak sabar."
"Lo bakal ngepel, kan?" dia ngejek.
"Nggak. Pasangan suami istri itu nggak selalu ada di sana. Kebanyakan anak-anaknya dan istrinya anak yang paling gede, yang bantuin mereka, yang ngurus toko. Yang paling gede di belakang konter, istrinya di pojok bantuin bungkus barang yang dibeli, sementara anak kedua nyusun rak."
"Jadi, semua ini buat akhirnya bilang ke gue, kalau lo bakal ngebersihin toilet, gitu," dia ketawa. Asahd nyebelin banget! Dia bisa bikin lo pengen teriak tanpa alasan.
"Lo nggak ngasih gue selesai ngomong!" gue beneran teriak, mukul dia pake bantal.
"Selesaiin deh. Biar gue bisa ketawa."
"Lo parah. Raknya kebanyakan buat anak kedua buat nanganin sendiri, sambil nunjukin berbagai macam makanan ke pelanggan. Nah, di situlah gue dibutuhin. Gue bakal bantuin dia."
Senyum Asahd langsung berubah jadi ekspresi kosong dan kayak bosen.
"Lo ngebunuh kesenangan. Cuma bikin gue bosen setengah mati," katanya males-malesan, ngambil remot dan lanjut nonton TV. Gue ketawa.
Dia mungkin nyebelin, sombong, dan egois banget, tapi dia juga lucu. Kadang tanpa berusaha atau tahu. Ratu drama alami dan orang yang berlebihan. Dia bikin gue ketawa sama banyaknya kayak dia bikin gue kesel. Bahkan waktu di Zagreh, padahal kita nggak tahan satu sama lain waktu itu.
"Lo cuma iri karena gue dapet kerjaan lebih cepet dari lo. Ditambah lagi, ini kerjaan yang sempurna karena rasanya kayak rumah, kerja di sana. Iri, iri, iri."
"Pff! Lo cuma hoki."
"Iri. Ha!" gue goda. "Satu lagi, deket dari sini. Gue cuma perlu jalan kaki sebentar buat nyampe sana, tiap pagi. Dan oh, mereka buka jam sepuluh. Jadi gue bisa tidur nyenyak dan bahkan sarapan. Gue belum bilang kalau mereka tutup jam tujuh? Salah gue," gue ketawa, seneng banget.
Asahd nggak peduliin gue, natap kosong ke TV, seolah nggak terganggu. Gue udah mulai percaya dia nggak terganggu sampai gue lihat tangannya pelan-pelan geser ke bantal di deket dia. Gue tahu itu bakal kena muka gue kalau gue nggak bereaksi.
Sambil ketawa, gue ambil bantal itu duluan.
"Lo mau mukul gue?" gue ketawa dan akhirnya dia ngelihat gue, ada sedikit rasa geli di matanya, meskipun dia berusaha keras buat tetep pasang muka datar.
"Saïda," panggil dia agak kalem.
"Iya?" gue senyum, bangga.
"Rambutnya bagus. Tunggu aja gue tangkep lo."
"Apa?"
Sebelum gue bisa mikir, dia nyerang gue. Cepet banget dan tiba-tiba sampai gue teriak nggak sengaja dan menghindar tepat waktu. Untungnya, gue udah ngiket rambut gue jadi sanggul dan dia nggak bisa narik rambut gue waktu gue lari. Gue tahu kalau dia nangkep gue, gue tamat.
Asahd ngejar gue! Di apartemen dan ruang tamu yang kecil itu. Mau lari ke mana lagi? Tapi gue tetep lari.
"Maaf! Asahd, jangan ganggu gue!!" gue teriak, ngindarin dia yang berusaha ngepojokin gue.
Akhirnya dia ngepojokin gue dan gue nggak berdaya. Ada kursi kecil di depan gue buat ngehalangin dia nyampe ke gue atau rambut gue.
"Ini yang terjadi kalau lo ngejek gue. Gue bakal narik rambut lo," gumam dia.
"Asahd, lo selalu nyakitin gue kalau lo ngelakuin itu! Maaf! Gue nggak bakal ngejek lo lagi."
"Terlambat," dia ketawa dan ngambil kursi, narik kursi itu dari genggaman gue. Waktu dia ngejatuhin kursi itu, gue berusaha buat lewat di sampingnya.
"AAAH!" Gue keangkat dari kaki karena dia meluk pinggang gue dari belakang dan ngangkat gue dari tanah. Gue udah panik karena gue tahu dia pasti bakal narik rambut gue sampai gue mohon-mohon dan puas.
"Ayo kita keluarin ini," dia ketawa, pake tangan yang bebas buat ngelepas jepit yang nahan sanggul gue, sementara gue nendang-nendang nggak berdaya. Dia lebih kuat dari yang gue duga karena meskipun gue nendang sekuat tenaga, cuma pake satu tangan, dia tetep megang gue erat. Dan lagi, gue pendek banget, dibanding dia.
Tangan satunya lagi ngelepas sanggul gue dan rambut gue jatuh ke punggung gue. Dia bakal narik rambut gue.
"Asahd, jangan, please!" waktu gue nendang dan berjuang, gue nggak sengaja nyikut mukanya, keras banget dan kena hidungnya.
"AARGH!" dia mengerang kesakitan dan mundur, ngebiarin gue pergi.
"Ya ampun! Maaf!" gue tersentak kaget dan panik waktu dia nutup hidungnya pake kedua tangan, mengerang kesakitan. "Coba gue lihat. Lo berdarah?"
Gue nyamperin dia dan narik tangannya dari mukanya. Gue lega dia nggak berdarah, meskipun dia jelas kesakitan.
"Maaf," gue nggak bisa nahan buat nggak cekikikan. "Lo nyari gara-gara."
Dia buka matanya dan natap gue, tangannya masih di hidungnya.
"Saïda?" panggil dia dengan nada lembut.
"Iya?"
"Tidur buka mata, tiap malam. Jalan liatin belakang kepala mulai hari ini. Gue sumpah bakal bales dendam kalau lo nggak nyangka."
′Nggak!′
"Asahd, jangan, please. Jangan!" gumam gue, megang lengannya dan mohon-mohon. Gue udah bikin semuanya makin parah! Asahd bakal ngerjain gue dengan cara yang mengerikan! Gue udah ngebayangin hal-hal yang bisa dia lakuin.
"Gue bilang gue minta maaf! Gue masih minta maaf!"
"Gue maafin lo," dia ngusap hidungnya. "Tapi gue tetep bakal bales dendam."
"Kenapa??" gue ngeluarin tawa yang kedengeran kayak isakan juga. Gue tamat. "Harus gue berlutut? Harus?"
"Terlambat," gumam dia dan pergi buat duduk.
"Asahd, please," gue tanpa harapan nyamperin dia di sofa dan nunjukin kepala gue. "Nih! Tarik rambut gue! Gue tahu lo terobsesi sama itu. Tarik," gue ketawa dan mohon-mohon di saat yang sama.
"Lo baru aja nggak langsung ngehina gue, manggil gue orang sakit yang terobsesi sama rambut orang. Wow. Gue catet itu," gumam dia dan kayaknya gue udah bikin semuanya makin parah.
"Please! Kenapa lo kayak gini?! Maafin dan lupain!" gue ketawa dan nangis di saat yang sama.
Dia ketawa.
"Lupain? Nggak mungkin. Gue bakal bikin lo lengah. Janji. Oke?" dia senyum dan narik pipi gue.
"Asahd, ini udah nggak lucu lagi. Gue bakal paranoid sepanjang minggu. Nggak asik!" gue ngomel dengan isakan palsu.
"Ssst. Ayo nonton TV," gumam dia dan naruh tangan di bahu gue, narik gue deket.
"Gue nggak mau nonton TV," gumam gue kayak anak kecil dan ngejauhin tangannya.
Minggu itu bakal sedikit rumit.